Jumat, 19 Juni 2015

Contoh Laporan KKL

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penyelenggaraan KKL
Pelaksanaan kegiatan KKL (Kuliah Kerja Lapangan). KKL merupakan program intrakulikuler dan merupakan salah satu mata kuliah semester akhir yang wajib diambil bagi semua mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang. Pada tahun ini IKIP Budi Utomo Malang kembali menyelenggarakan kegiatan KKL yang diikuti oleh semua mahasiswa semester 8. Pelaksanaan KKL kali ini kembali diadakan ke Bali.
1.1.1 Tujuan KKL
Pulau Bali merupakan daerah tujuan wisata andalan utama kepariwisataan Indonesia, dan hal ini sudah dikenal diseluruh pelosok Indonesia dan juga terkenal di dunia Internasional. Pelaksanaan KKL ini diharapkan mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang dapat mengambil manfaat dari pelaksanaannya. KKL merupakan salah satu pengalaman belajar bagi para mahasiswa terutama dalam dunia pariwisata. Selain itu KKL bagi para mahasiswa dapat menunjukan peningkatan kemampuan hal-hal lain yaitu:
1.      Memperoleh informasi dan gambaran umum yang lebih jelas mengenai bagaimana mengelola kepariwisataan.
2.      Dapat mengambil hikmah atau manfaat dari perkembangan dunia pariwisata khususnya di Bali terutama bagaimana peran masyarakat dalam menunjang dan berperan dalam kepariwisataan.
3.      Dapat melihat dan menilai sendiri bagaimana dampak negatif dan positif dari pariwisata secara langsung, baik itu dari masyarakat, lingkungan dan lain-lain.
1.1.2 Beroleh Pengetahuan Tentang Pariwisata Bali
Pariwisata Bali telah lama dikenal oleh masyarakat luas baik dari masyarakat internasional dan juga tentunya masyarakat nasional. Bali terkenal dengan keindahan alam dan juga kebudayaan yang beranekaragam. Pulau Bali mempunyai objek wisata yang sangat menarik dan tentunya unik, adat istiadat yang unik dan beranekaragam, ditambah lagi dengan objek wisata pantainya yang sangat mempesona bagi para pengunjung baik local maupun internasional.

BAB II
PEMBAHASN
2.1       Perjalanan Ke Bali
Berangkat dari kampus itu hari Selasa 1 April 2014 pukul 14.00 siang, tapi sudah berada di kampus pukul 13.00 siang. Setelah itu kami berangkat dari Malang menuju Bali menggunakan bus dengan menempuh perjalanan selama 12 jam. Perjalanan panjang kami dilalui dengan 1 kali pemberhentian sekaligus makan siang sekaligus makan malam karena tiba di rumah makan pukul 17.00 di rumah makan. Perjalanan kami dari Malang pertama-tama menuju Probolinggo lalu menuju pelabuhan Ketapang Banyuwangi.
Selama perjalanan, kami selalu dipenuhi dengan suasana yang menyenangkan, ada yang berkaraoke, dan ada pula yang menikmati pemandangan alam.
Semua rombongan  peserta KKL IKIP Budi Utomo Malang hari akhirnya tiba di pelabuhan Ketapang – Banyuwangi Pukul 00.00 dan kami menunggu kapal Ferry yang akan membawa kami membelah lautan menuju pulau Bali tepatnya di pelabuhan Gilimanuk. Didalam kapal Ferry tentu semua peserta KKL keluar dari Bus dan hendak melihat dari sisi-sisi kapal Ferry dan banyak sekali diantara peserta yang mengabadikan moment tersebut melalui kamera digital dan kamere handphonenya. Kali ini cuaca selama perjalanan menyebrang sangat bersahabat sehingga kami bisa menikmati pemandangan laut yang luar biasa indahnya.
Selama perjalanan salah satu teman saya Erick (kakak alap-alap)  mencoba melukiskan melalui kata-kata pada penyebrangan dari pelabuhan Ketapang – Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk – Bali: Berikut beberapa bait yang tertuang dalam perjalanan yang menyertai kami menuju pulau Bali.
“Menerjang Ombak ditengah hamparan lautan
Menyapu gumparan laut dan menyisihkan pulau
Angin menerjang siap ku lawan
Dengan perintai baja disekeliling
Mampu menahan semua yang menghalang
Gelekar tawa bahagia menyertai hembusan nafas
Senyum merona terukir di wajah
Sesaat Pulau Bali nan merekah indah”
Setelah 30 Menit ditempuh untuk menyebrangi lautan dengan kapal Ferry akhirnya kami tiba di pelabuhan Gilimanuk – Bali dan suasana pun kembali riuh dengan sorak-sorak peserta, ada yang “Akhirnya sampai di Bali”, “Bali I’m Coming” dan lain sebagainya. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat kami menginap sesaat sebelum meninggalkan pelabuhan Gilimanuk – Bali kami semua berhenti sejenak untuk pengecekan dll.  Perjalanan pun dilanjutkan dari pelabuhan Gilimanuk – Bali menuju tempat pariwisata yang pertama yaitu wisata pantai Tanah Lot. Perjalanan dari pelabuhan Gilimanuk-Bali menuju tempat wisata Tanah Lot memakan waktu sekitar ± 3 jam perjalanan.
Setelah semua peserta berkumpul ditempat masuk objek wisata, kami di ijinkan untuk langsung masuk ke tempat wisata Tanah Lot. Di Tanah Lot kami menikmati keindahan alam disekitar dan juga mengabadikan momen-momen tertentu melalui foto-foto dan berkeliling kawasan Tanah Lot.
Sayangnya perjalanan menikmati objek wisata Tanah Lot  terlalu singkat dikarenakan kami harus melanjutkan kunjungan ke tempat wisata lainnya.  Perjalanan pun dilanjutkan dan kami pun tiba di rumah makan Agung Bali untuk makan pagi, setelah selesai makan pagi Perjalanan pun dilanjutkan ke tempat wisata berikutnya yaitu Monumen Rakyat Bali, sesampainya disana, betapa kagumnya hati kami setelah melihat monument rakyat bali yang begitu bagus dan tentu saja para psesrta KKL tidak mau melewatkan kesempatan dengan mengabadikan dirinya melalui pemotretan dengan menggunakan kamera digital maupun handphone.
Hari semakin siang, setelah makan, kami pun segera bergegas ke Krisna yaitu tempat oleh – oleh khas Bali. dari Krisna kami menuju Hotel penginapan kami di Hotel Atanaya untuk beristirahat.
Pukul 15.00 bus rombongan kami telah tiba di depan hotel sebagai tanda bahwa perjalanan kami akan segera dilanjutkan lagi. Dari hotel, kami melanjutkan perjalanan ke salah satu temnpat wisata yang cukup terkenal yaitu GWK ( Garuda Wisnu Kencana ). Untuk menuju GWK dibutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Selama perjalanan kami kembali disuguhi pemandangan di Pulau Bali mulai dari rumah penduduknya dan jalan yang berkelok-kelok. Sesampainya kami di tempat tujuan, kami langsung menikmati keindahan di tempat tersebut, dan yang membuat kami terkagum-kagum saat kami melihat patung Garuda Wisnu Kencana yang begitu besar. Namun sayangnya patung tersebut belum selesai dibangun. Meski patung tersebut masih dalam proses atau taraf pembuatan, banyak para pengunjung yang menikmati keindahan dari patung GWK, bahkan banyak yang mengabadikan momen tersebut melalui foto-foto dan berkeliling dikawasan GWK.
Sungguh tak terasa waktu telah menunjukan pukul 16.35 WIB dan kami harus segera melanjutkan perjalanan menuju pantai Jimbaran untuk menikmati sunset sekaligus makan malam.
Di pantai Jimbaran, kami langsung disuguhi dengan makanan dan minuman serta juga diisi beberapa hiburan menarik yang membuat seluruh peserta KKL IKIP Budi Utomo Malang menjadi senang dan kagum untuk melihatnya. Nikmatnya ikan bakar dan tambah lagi suasana makan yang berada di pinggir pantai serta ditemani dengan indahnya sunset menjadi pelengkap makan malam kami sebelum kembali lagi ke hotel Atanaya untuk beristirahat.
Makan malam pun selesai, seluruh hiburan pun turut selesai pula. Kami pun lalu bergegas menuju ke bus rombongan masing-masing dan menuju ke tempat penginapan atau hotel Atanaya untuk beristirahat.
2.2       Perjalanan Pulang
Sungguh tidak terasa bahwa perjalanan KKL IKIP Budi Utomo Malang harus diakhir juga walaupun berat juga meninggalkan keindahan dan semua keunikan yang dimiliki Bali. Sebelum pulang kembali ke Malang, kami masih menyempatkan waktu untuk mengunjungi 2 tempat wisata lainnya yaitu tempat pertunjukan tari barong dan pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali (Joger).
Perjalanan pulang pada KKL kali ini yaitu pada hari Kamis tanggal 3 April 2014 setelah semua para peserta berkumpul dan berada di Bus masing-masing akhirnya kami kembali ke Malang setelah perjalanan yang indah selama di Bali. Perjalanan diawali dengan meninggalkan tempat pusat perbelanjaan oleh-oleh khas Bali (Joger) menuju pelabuhan Gilimanuk, selama perjalanan kami disuguhi keindahan alam dan pegunungan serta keadaan alam yang berupa hutan yang rindang dengan pepohonan perjalanan pulang menempuh ± 1 jam karena masih harus singgah lagi di rumah makan Bidadari. Setelah selesai makan, kami langsung melanjutkan perjalanan dari rumah makan bidadari menuju pelabuhan Gilimanuk-Bali. kami kembali menyembrangi lautan dengan kapal Ferry. Sesampai di pelabuhan Ketapang-Banyuwangi kami melanjutkan perjalanan menuju ke kota Malang dan tiba pada hari Jumad tepat jam 4 pagi di depan kampus IKIP Budi Utomo Malang.
BAB III
BALI SEBAGAI DAERAH TUJUAN PARIWISATA
3.1       Bali Selayang Pandang
Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia, dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan, dan Pulau Serangan.
Bali terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsinya ialah Denpasar, yang terletak di bagian selatan pulau ini. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya, khususnya bagi para wisatawan Jepang dan Australia. Bali juga dikenal dengan sebutan Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
Penghuni pertama pulau Bali diperkirakan datang pada 3000-2500 SM yang bermigrasi dari Asia. Peninggalan peralatan batu dari masa tersebut ditemukan di desa Cekik yang terletak di bagian barat pulau. Zaman prasejarah kemudian berakhir dengan datangnya ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta dari India pada 100 SM. Kebudayaan Bali kemudian mendapat pengaruh kuat kebudayaan India, yang prosesnya semakin cepat setelah abad ke-1 Masehi. Nama Balidwipa (pulau Bali) mulai ditemukan di berbagai prasasti, diantaranya Prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada 913 M dan menyebutkan kata Walidwipa. Diperkirakan sekitar masa inilah sistem irigasi subak untuk penanaman padi mulai dikembangkan. Beberapa tradisi keagamaan dan budaya juga mulai berkembang pada masa itu. Kerajaan Majapahit (1293–1500 AD) yang beragama Hindu dan berpusat di pulau Jawa, pernah mendirikan kerajaan bawahan di Bali sekitar tahun 1343 M. Saat itu hampir seluruh nusantara beragama Hindu, namun seiring datangnya Islam berdirilah kerajaan-kerajaan Islam di nusantara yang antara lain menyebabkan keruntuhan Majapahit. Banyak bangsawan, pendeta, artis, dan masyarakat Hindu lainnya yang ketika itu menyingkir dari Pulau Jawa ke Bali.
Orang Eropa yang pertama kali menemukan Bali ialah Cornelis de Houtman dari Belanda pada 1597, meskipun sebuah kapal Portugis sebelumnya pernah terdampar dekat tanjung Bukit, Jimbaran, pada 1585. Belanda lewat VOC pun mulai melaksanakan penjajahannya di tanah Bali, akan tetapi terus mendapat perlawanan sehingga sampai akhir kekuasaannya posisi mereka di Bali tidaklah sekokoh posisi mereka di Jawa atau Maluku. Bermula dari wilayah utara Bali, semenjak 1840-an kehadiran Belanda telah menjadi permanen, yang awalnya dilakukan dengan mengadu-domba berbagai penguasa Bali yang saling tidak mempercayai satu sama lain. Belanda melakukan serangan besar lewat laut dan darat terhadap daerah Sanur, dan disusul dengan daerah Denpasar. Pihak Bali yang kalah dalam jumlah maupun persenjataan tidak ingin mengalami malu karena menyerah, sehingga menyebabkan terjadinya perang sampai mati atau puputan, yang melibatkan seluruh rakyat baik pria maupun wanita termasuk rajanya. Diperkirakan sebanyak 4.000 orang tewas dalam peristiwa tersebut, meskipun Belanda telah memerintahkan mereka untuk menyerah. Selanjutnya, para gubernur Belanda yang memerintah hanya sedikit saja memberikan pengaruhnya di pulau ini, sehingga pengendalian lokal terhadap agama dan budaya umumnya tidak berubah.
Jepang menduduki Bali selama Perang Dunia II, dan saat itu seorang perwira militer bernama I Gusti Ngurah Rai membentuk pasukan Bali ‘pejuang kemerdekaan’. Menyusul menyerahnya Jepang di Pasifik pada bulan Agustus 1945, Belanda segera kembali ke Indonesia (termasuk Bali) untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonialnya layaknya keadaan sebelum perang. Hal ini ditentang oleh pasukan perlawanan Bali yang saat itu menggunakan senjata Jepang.
3.1.1    Letak Geografis
Pulau Bali adalah bagian dari Kepulauan Sunda Kecil sepanjang 153 km dan selebar 112 km sekitar 3,2 km dari Pulau Jawa. Secara astronomis, Bali terletak di 8°25′23″ Lintang Selatan dan 115°14′55″ Lintang Timur yang mebuatnya beriklim tropis seperti bagian Indonesia yang lain. Gunung Agung adalah titik tertinggi di Bali setinggi 3.148 m. Gunung berapi ini terakhir meletus pada Maret 1963. Gunung Batur juga salah satu gunung yang ada di Bali. Sekitar 30.000 tahun yang lalu, Gunung Batur meletus dan menghasilkan bencana yang dahsyat di bumi. Berbeda dengan di bagian utara, bagian selatan Bali adalah dataran rendah yang dialiri sungai-sungai.
Berdasarkan relief dan topografi, di tengah-tengah Pulau Bali terbentang pegunungan yang memanjang dari barat ke timur dan diantara pegunungan tersebut terdapat gugusan gunung berapi yaitu Gunung Batur dan Gunung Agung serta gunung yang tidak berapi yaitu Gunung Merbuk, Gunung Patas, dan Gunung Seraya. Adanya pegunungan tersebut menyebabkan Daerah Bali secara Geografis terbagi menjadi 2 (dua) bagian yang tidak sama yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dan kurang landai, dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Kemiringan lahan Pulau Bali terdiri dari lahan datar (0-2%) seluas 122.652 ha, lahan bergelombang (2-15%) seluas 118.339 ha, lahan curam (15-40%) seluas 190.486 ha, dan lahan sangat curam (>40%) seluas 132.189 ha. Provinsi Bali memiliki 4 (empat) buah danau yang berlokasi di daerah pegunungan yaitu : Danau Beratan, Buyan, Tamblingan dan Danau Batur.
Ibu kota Bali adalah Denpasar. Tempat-tempat penting lainnya adalah Ubud sebagai pusat seni terletak di Kabupaten Gianyar; sedangkan Kuta, Sanur, Seminyak, Jimbaran dan Nusa Dua adalah beberapa tempat yang menjadi tujuan pariwisata, baik wisata pantai maupun tempat peristirahatan.
3.1.2.   Keadaan Alam
Luas wilayah Provinsi Bali adalah 5.636,66 km2 atau 0,29% luas wilayah Republik Indonesia. Secara administratif Provinsi Bali terbagi atas 9 kabupaten/kota, 55 kecamatan dan 701 desa/ kelurahan.
Batas wilayah.
Sebelah Utara              : Laut Bali
Sebelah Selatan           : Samudera Indonesia
Sebelah Barat              : Provinsi Jawa Timur
Sebelah Timur             : Provinsi Nusa Tenggara Barat
Daftar kabupaten dan Kota di Bali
1.
Kabupaten Badung
Badung
2.
Kabupaten Bangli
Bangli
3.
Kabupaten Buleleng
Singaraja
4.
Kabupaten Gianyar
Gianyar
5.
Kabupaten Jembrana
Negara
6.
Kabupaten Karangasem
Karangasem
7.
Kabupaten Klungkung
Klungkung
8.
Kabupaten Tabanan
Tabanan
9.
Kota Denpasar
-
3.1.3    Kependudukan
Penduduk Bali kira-kira sejumlah 4 juta jiwa, dengan mayoritas 92,3% menganut agama Hindu. Agama lainnya adalah Buddha, Islam, Protestan, dan Katolik. Selain dari sektor pariwisata, penduduk Bali juga hidup dari pertanian dan perikanan. Sebagian juga memilih menjadi seniman. Bahasa yang digunakan di Bali adalah Bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris khususnya bagi yang bekerja di sektor pariwisata. Bahasa Bali dan Bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling luas pemakaiannya di Bali, dan sebagaimana penduduk Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat Bali adalah bilingual atau bahkan trilingual. Meskipun terdapat beberapa dialek dalam bahasa Bali, umumnya masyarakat Bali menggunakan sebentuk bahasa Bali pergaulan sebagai pilihan dalam berkomunikasi.
Secara tradisi, penggunaan berbagai dialek bahasa Bali ditentukan berdasarkan sistem catur warna dalam agama Hindu Dharma dan keanggotan klan (istilah Bali: sorohgotra); meskipun pelaksanaan tradisi tersebut cenderung berkurang. Bahasa Inggris adalah bahasa ketiga (dan bahasa asing utama) bagi banyak masyarakat Bali, yang dipengaruhi oleh kebutuhan yang besar dari industri pariwisata. Para karyawan yang bekerja pada pusat-pusat informasi wisatawan di Bali, seringkali juga memahami beberapa bahasa asing dengan kompetensi yang cukup memadai.
3.2       Bali Sebagai Daerah  Tujuan Pariwisata
Seperti diketahui bahwa Bali merupakan tujuan utama para wisatawan terutama wisatawan dari luar Indonesia atau wisatawan internasional. Pulau Bali memiliki beberapa julukan diantarannya Pulau Dewata, Pulau Nirwana, dan  pulau seribu Kuil. Hampir semua bangunan di Bali, baik dari bangunan rumah, instansi pemerintah semuanya hampir menggunakan arsitektur Bali sehingga menambah kentalnya kesan Bali dan keunikannya.usaha tersebut tidak lain yaitu untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Bali sehingga semakin banyak wisatawan berkunjung ke Bali maka pendapatan daerah akan semakin meningkat. Pusat pemasukan anggaran daerah Bali berasal dari dunia kepariwisataannya maka bisa dibayakan jika dunia pariwisata Bali lemah maka pemasukan kas APBD akan semakin kecil.
3.2.1    Modal Dasar Pariwisata Bali
Modal dasar pariwisata Bali yaitu keindahaan dan keunikan alamnya serta kebudayaan yang unik dan beragam sehingga menarik para wisatawa berkunjung. Potensi inilah yang coba diberdayakan oleh pemerintah yang menjadikan Bali sebagai tujuan utama dari kepariwisataan Indonesia walaupn masih banyak objek wisata di Indonesia yang tidak kalah pentingnya, salah satu tetangga terdekatnya adalah Lombok yang sekarang ini sedang dikembangkan pariwisatanya. Selain Bali dan Lombok masih banyak lagi objek wisata yang menarik dan sangat indah jika dikunjungi. Peran pemerintah baik untuk pemerintah daerah maupun pemerintah pusat diharapkan dapat membantu untuk terus mengembangkan kepariwisataan tidak hanya di Bali tapi juga diseluruh Indonesia.
3.2.1    Jenis Daya Tarik Wisata Bali
Bali memiliki keindahan alam, seni budaya serta kehidupan masyarakatnya yang unik yang menjadikan salah satu daya tarik wisata Bali. Hampir semua rumah di Bali memiliki tempat untuk peribadatan dan hal ini juga merupakan keunikan tersendiri yang dimiliki Bali. Bukan hanya keindahan alam yang dimilik Bali tapi kebudayaan tradisionalnya juga sangat menarik salah satunya yaitu tari kecak, tari barong keris, tari pendet, tari wali, tari bebali, tari balih-bailhan serta masih banyak lagi tari-tarian yang berasal dari Bali. Selain itu seni rupa juga menarik perhatian para wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Adapun seni rupa yang menarik di Bali diantaranya seni pahat, seni lukis dan seni hias. Untuk seni pahat Bali memiliki berbagai hasil karya terbesarnya salah satu karya yang terkenal adalah GWK (Garuda Wisnu Kencana), namun sampai sekarang masih dalam proses penyelesaian tapi sangat menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Bali.
3.2.3    Prospek Pariwisata Bali
Pengembangan pariwisata di Bali mencerminkan adanya hegemoni terhadap desa adat di daerah ini, termasuk kawasan Kuta yang terikat dalam sistem sosial budaya yang dijiwai agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat Pulau Dewata. “Hegemoni pariwisata terhadap desa adat Kuta sejalan dengan teori sosial kritis, “Modal dasar dari kepariwisataan Bali yaitu budaya dan keadaan alam serta kesenian yang unik” inilah yang menjadikan sebagai dasar pengembangan pariwisata di Bali.
Pemerintah menerapkan otorita sosial dan kepemimpinan terhadap masyarakat, dengan cara merebut persetujuan masyarakat agar menyukseskan pengembangan pariwisata. Hal itu dilakukan mengingat pariwisata menjadi andalan dalam meningkatkan perolehan devisa negara, pendapatan daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat ke arah yang lebih baik.
Dalam pengembangan pariwisata di Indonesia, bertumpu pada keunikan modal budaya masing-masing daerah, sehingga setiap daerah tujuan wisata memiliki ciri khas tersendiri, katanya. Pemprov Bali melalui Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 1991 tentang Pariwisata Budaya menetapkan kebudayaan Bali yang dijiwai oleh agama Hindu sebagai modal dalam pengembangan pariwisata. Hingga saat ini pengembangan pariwisata tetap menekankan pada praktik-praktik budaya sebagai salah satu daya tarik paling dominan mendorong wisatawan dalam dan luar negeri berkunjung ke Pulau Dewata.





























BAB VI
PENUTUP
1.       Kesimpulan
Pada kunjungan dari kegiatan KKL kali ini kami mendapat berbagai informasi mengenai dunia pariwisata. Hal ini tidak terlepas dari pengalaman yang didapat selama kegiatan KKL berlangsung. Banyak pengalaman yang berguna dan bernilai positif bagi kami semua yang mengikuti kegiatan KKL ini.
Seperti yang kita ketahui bahwa Bali merupakan magnet utama dalam bidang pariwisata Indonesia. Adapun daya tarik dari majunya dunia pariwisata Bali yaitu keindahan serta kekayaan alamnya dan kebudayaannya yang unik sehingga menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Peran pemerintah yang mempromosikan Bali baik ke dunia Internasional maupun ke dalam negeri. Pendapatan utama Bali yaitu berasal dari sektor pariwista sehingga jika dunia pariwisata Bali baik dan maju maka perekonomian Bali pun akan maju juga sedangkan jika dunia pariwisatanya mundur maka tentu saja perekonomiannya pun akan mundur juga. Untuk ke depannya Bali seharusnya tidak harus selalu mengandalkan dari Sektor pariwisata tapi harus dikembangkan juga sektor lainnya sehingga Bali bisa  berdiri bukan hanya dari kepariwisataanya saja tapi juga dari sektor lainnya.
2.       Saran
2.1    Pimpinan DIPARDA dan Musium Perjuangan Rakyat Bali
Pemberdayaan masyarakat dan juga bentuk sinergi itu sangat diperlukan untuk tetap bisa berkembang sehingga bisa semakin maju dari waktu ke waktu. Perbaikan dan peningkatan mutu dari kualitas pelayanan seperti saran dan prasarana penunjung pariwisata harus tetap digalakkan agar para wisatawan bisa lebih nyaman dan dapat menikmati kunjungannya dengan baik dan sesuai dengan harapan. Pembenahan dan penyelesaian masalah yang ada harus segera diselesaikan dan diatasi dengan baik sehingga tidak terjadi penumpukan masalah yang semakin besar.
2.2    Pimpinan IKIP BUDI UTOMO MALANG
Program ini harus tetap dipertahankan dan juga harus ditingkatkan lagi baik itu objek wisata yang bervariasi dan tentu saja lebih menarik. Program KKL atau bisa dikatakan sama dengan Kuliah Kerja Lapangan terutama daerah tujuannya yaitu Bali merupakan ciri khas atau salah satu program yang baik. Untuk tujuan objek wisata dan juga daerah tujuan utama misalkan Bali untuk pelaksanaan KKL kali ini dan untuk KKL tahun mendatang bisa divariasikan lagi misalnya Bali-Yogyakarta, namun bukan yang mudah untuk mewujudkannya dan tentu saja perlu kerjasama pada semua pihak sehingga dari tahun ke tahun pelaksanaan KKL akan semakin baik.


2.3    Pelaksana, dan Pembimbing
Untuk para pelaksana (panitia KKL), dan Pembimbing saya mengucapkan terima kasih atas usah dan jerih payahnya untuk mensukseskan pelaksanaan KKL kali ini serta para pembimbing yang telah memberikan masukan dan pengetahuannya mengenai kepariwisataan yang nantinya sangat berguna bagi kami yang akan berkecimpung di dunia pariwisata. Untuk pelaksanaan KKL mendatang diharapkan bisa tetap berkaca dari pengalaman dan juga kekurangan dari pelaksanaan KKL yang lalu sehingga untuk pelaksanaan KKL yang mendatang akan semakin baik dan menjadi lebih baik lagi dari pelaksaan KKL yang lalu.
2.4    Pimpinan Transportasi, Akomodasi, Rumah Makan, Daya Tarik dan Atraksi Wisata.
Ada istilah “Pelanggan senang kami pun senang”, hal ini perlu diperhatikan oleh para pimpinan transfortasi, akomodasi, katering, daya tarik dan atraksi wisata dalam memberikan pelayanannya sehingga pelanggan bisa puas atas semua pelayanan yang diberikan. Mengenai objek wisata dan atraksi wisata untuk tetap memberikan kualitas atraksinya dan juga penyajian dari setiap pementasan sehingga bisa membuat para penonton dan para penikmat atraksi puas sehingga bisa membuat wisatawan datang lagi.











DAFTAR PUSTAKA

Anak Agung, I Gede. (1991). Bali – Keadaan Sosial. Yayasan Obor : Jakarta
Agung, Wijaya. (2000). Daerah Tujuan Wisata di Indonesia. Gramedia Pustaka : Jakarta.
Candra, Michele. (2005). Pulau Bali, Encyclopedia Bali Sebagai Pulau Dewata. Gramedia Pustaka : Jakarta.
Direktorat Jendral Pariwisata, (1986). Buku Petunjuk Wisata Dalam Negeri. Direktorat Jendral Pajak : Jakarta
Direktorat Jendral Pariwisata, (1993). Indonesia Mengenal Sepuluh Daerah Tujuan Wisata. Direktorat Jendral Pajak : Jakarta

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar